Dialog dengan Poster Calon Bupati

Tiba -tiba saja kotaku yg biasanya sepi, ga ada apa – apanya ini berubah seketika. Pemandangannya menjadi lebih berwarna.
Bukan karena ada mall baru, bukan juga karena ada karnaval anak – anak TK. Tapi lebih dikarenakan oleh terpampangnya poster -poster para calon bupati yg secara ajaib muncul di setiap sudut jalan.

Muka dengan senyum sumringah sudah terpampang di mana – mana, ada yg pake batik, ada yg pake blangkon , ada  juga yg pake peci ada juga yg pamer tanda klo dia rajin sholat ( tanda di dahi yg mirip bekas diatok ular ). Yang lebih heboh lagi ada juga yg pamer huruf H gede di awal nama mereka.

Pemilihan bupati masih tahun depan, tapi mereka sudah dengan semangatnya tebar pesona di mata rakyat. Mata saya sampai berkunang – kunang gara – gara  kemanapun mata memandang selalu tertumpuk di pelupuk mata wajah -wajah “sok” bijaksana yg terpampang di poster 4×5 meteran tersebut.

Kepala saya pun makin pusing saat membaca janji – janji yg mereka berikan. Ada yg menjanjikan bebas macet ada juga yg menjanjikan bebas pungli , tapi ada pula yg menjanjikan kemerdekaan ( lho, kan udah ? ).

Ketika saya akan memalingkan muka dari poster – poster tersebut ( udah eneg ngelihatnya ), secara ajaib ada salah satu poster yg tiba- tiba bisa gerak dan ngomong ke saya.

Poster ( P ) : Mas, pilih saya ya No. 9 !!!
Saya     ( S ) : Ogah !!!
P : Lho kok ga mau, lihat nih. Saya satu – satunya Cabup ( calon bupati ) yg Islami, ga liat peci saya ?
S : Maaf om, saya golput ( golongang putih ).
P : Bukannya golput itu ga boleh ya, menurut MUI golput itu haram. Karena ga memakai hak pilih itu sesuatu yg mubadzir.
S : Justru kalian yg mubadzir menghabiskan dana kampanye miliaran rupiah, mending buat sedekah. Dan para golputis seperti saya justru mubadzir jika sudah susah – susah datang ke TPS ngantri berjam -jam dan  ga ada pilihan yg bermutu.
P : Dari sekian banyak calon yg ada masa ga ada yg bermutu ? mungkin kalian aja para golputis yg iri ngelihat kami – kami ini.
S : Itu terserah om, tapi asal tahu aja. Hasil survei menunjukkan kalau sebagian besar golputis berasal dari kaum intelektual muda yg sadar politik. Jadi tidak mudah kalian bodohi dengan janji – janji palsu. lagi pula kepercayaan rakyat pada politikus kan anjlok gara – gara kalian sendiri. Jadi jangan salahkan kami. ( masih ingat kasus maria eva ? )
P : Demi Tuhan saya pasti akan menepati janji – janji yg telah saya berikan. Saya kan islam, sudah Haji pula.
S : Ga usah pakai embel – embel agama dan Tuhan segala,  kita semua tahu kalau Tuhan juga golput.
P : Lalu bagaimana cara kami agar para golputis ikut memilih?
S : Sebenarnya gampang aja, yg pentik ga usah lebay. Janjikan apa yg memang bisa kalian lakukan. Dan yg terpenting jangan menganggap bodoh rakyat. Banyak parpol yg menggandeng selebritis untuk mendapat perhatian dari rakyat. Padahal hal itulah yg menjadi bukti kalau kalian menganggap bodoh rakyat.
P : Jadi kamu masih tetap mau golput.
S : Ya, jadi biarkan saya golput dengan tenang …

Setelah itupun saya melenggang dengan santai, meninggalkan muka – muka penuh senyum itu.

***

Kisah ini hanya fiksi belaka, dan dialog ini hanyalah monolog yg terjadi di dalam pikiran saya, jadi ga usah dianggap serius.
Tapi yg terpenting adalah apapun yg kau lakukan, jangan sampai menipu dan merugikan orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s